Hipnotis Isu-Isu kampanye pilkada Sumut April 7, 2008
Posted by Robby Alexander Sirait in SASTRA BEBAS.Tags: KAMPUNGKU
add a comment
Proses kampanye pemilihan gubernur sumatera utara sedang berlangsung,lima calon gubernur mulai melakukan aksi jualan program dan janji-janji kampanyenya . Barang jualan yang mereka tawarkan sebenarnya bukan barang baru lagi buat masyarakat sumatera utara dan sebenarnya barang jualan tersebut barang usang yang diperjualkan kepada calon pemilih nantinya. Memberantas kemiskinan, mengurangi pengangguran, pelayanan kesehatan murah dan pendidikan murah dan gratis adalah empat jualan yang sangat sering diperdagangkan, ini tidak hanya terjadi di sumatera utara tetapi juga terjadi didaerah-daerah lain… Wah, mulianya calon-calon gubernur tersebut (mungkin kalau kita hanya melihat sepintas dan terjerambab kedalam janji-janji kosong tersebut, tapi kita berharap itu bukan janji-janji kosong)
Isu-isu kemiskinan, pengangguran, kesehatan dan pendidikan merupakan isu-isu populer yang dimainkan (dijual) oleh hampir semua calon-calon pemimpin baik daerah maupun nasional mulai dari ujung sumatera sampai ujung papua. Calon gubernur sumatera utara juga menggunakan isu-isu tersebut untuk menggalang suara calon pemilih pada pemilihan nantinya. Para kandidat ini mengetahui betul bahwa permasalahan kemiskinan, pengangguran, rendahnya kesehatan dan sulitnya memperoleh pendidikan menjadi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat miskin dan rentan miskin di sumatera utara. Para kandidiat ini berharap dengan menjual “mimpi” kepada calon pemilih , mimpi untuk diangkat dari lembah kemiskinan-diberikan pekerjaan yang layak-diberikan fasilitas kesehatan dan pendidikan yang layak dan terjangkau, kandidat dapat memenangkan dirinya pada pemilihan nantinya. Tetapi, apakah nantinya setelah mereka terpilih masyarakat sumatera utara juga merasakan kemenangan, kemenangan atas kemiskinan, sulitnya mendapat pekerjaan, fasilitas kesehatan yang terjangkau dan fasilitas pendidikan yang terjangkau. Melihat apa yang sudah terjadi dirasakan oleh masyarakat daerah lain yang sudah terlebih dahulu menghadapi hal yang sama, kecenderungannya adalah kemenangan tersebut tidak akan pernah dirasakan oleh masyarakat juga. Untuk itu, kita berharap pemilih di sumatera utara tidak terjebak pada hipnotis mimpi janji-janji kampanye tersebut dan memilih kandidat yang benar-benar bisa memenagkan penderitaan rakyat bukan kandidat yang hanya bisa menjual mimpi-mimpi saja.
Isu-isu tersebut selalu menjadi primadona ketika para kandidat berada di panggung kampanye, berada di jalan, berada di pasar-pasar tradisional, berada di kerumunan masyarakat dan dimanapun para kandidat tersebut mendapat jatah kampanye. Tetapi menjadi sebuah hal yang ironis dan sangat menyedihkan adalah apakah para kandidat tersebut apakah pernah melakukan hal yang sama sampai kepada kerja nyata dilapangan untuk mengatasi isu-isu tersebut (kemiskinan, penganguran, kesehatan dan pendidikan) secara kontinyu dan berkesinambungan, sebelum menjadi calon gubernur. Jawabanya TIDAK, kalaupun ada itu hanya dibawah 10 persen (relatif belum bisa dikatakan mereka melakoni hal tersebut). Para kandidat menjual isu tersebut hanya ketika mereka sedang membutuhkan banyak suara untuk memenagkan pemilihan. Inilah realita politik di negeri ini, mereka hadir (menjual isu) ketika mereka butuh dukungan untuk pemilihan (ketika ada kepentingan pribadi). Untuk itu para kandidat ini harus diseleksi secara selektif oleh para calon pemilih sehingga janji dan realisasi akan menjadi kenyataan. Ada beberapa cara yang mungkin bisa menajdi parameter apakan para kandidat tersebut benar-benar berkeinginan dan prihatin terhadap isu-isu tersebut, yakni :
1. Cari tahu dan tanyakan kepada para kandidat, apa yang mereka lakukan sebelum menjadi calon untuk mengatasi isu-isu tersebut. Dan berapa banyak waktu yang mereka relakan selama ini untuk hal tersebut.
2. Cari tahu dan tanyakan Output apa yang dapat mereka hasilkan selama ini untuk mengatasi isu-isu tersebut.
3. Cari tahu dan tanyakan Dengan cara apa (detail) mereka mampu mengatasi isu-isu tersebut ketika nantinya terpilih menjadi gubernur.
4. Cari tahu dan tanyakan seberapa jauh mereka mengenal dan memahami isu-isu tersebut
Ketika calon pemilih mencari dan memperoleh jawaban atas empat parameter diatas, saya sangat yakin bahwa jawaban yang diperoleh sangat mengecewakan karena isu-isu tersebut hanya janji-janji kosong belaka.
Untuk itu, sebaiknya para calon pemilih Gubernur Sumatera Utara pada tanggal 16 April nanti mampu menjadi pemilih yang rasional dan kritis atas pilihannya dan benar-benar memahami kemampuan kandidiat untuk merealisasikan semua janji-janji kampanyenya. HATI-HATI JANGAN SAMPAI SALAH PILIH!!!!!
Sibloga Nauli???(Slogan atau Slogan) January 7, 2008
Posted by Robby Alexander Sirait in SASTRA BEBAS.Tags: KAMPUNGKU, SASTRA BEBAS
add a comment
Di penghujung akhir tahun 2007, saya kembali ke rumah di Kota Sibolga (kira-kira7 jam dari kampung saya ‘Porsea’. Perjalanan malam yang saya tempuh melalui darat dari kota Medan masih terasa biasa dan mengasikkan hingga kota tarutung tetapi perjalanan ini berubah menjadi sangat melelahkan dan menyebalkan setelah melewati kota tarutung…Melelahkan dan menyebalkan karena selama perjalanan dari tarutung kondisi jalan yang sangat memperihatinkan dan bobrok menjadi penghambat dan alasannya. Jalan yang berlubang dimana-mana sangat mengganggu perjalanan padahal kota sibolga sebagai salah satu kota transit transaksi melalui pelabuhan memiliki dana cukup untuk melakukan perbaikan infrastruktur. (more…)