Catatan Empat Tahun Kinerja Perekonomian Pemerintahan SBY – JK (Part 1) December 9, 2008
Posted by Robby Alexander Sirait in EKONOMI.Tags: EKONOMI
add a comment
Catatan Empat Tahun Kinerja Perekonomian
Pemerintahan SBY – JK
Oleh : Robby A. Sirait
Empat Tahun pemerintahan SBY – JK, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami pasang surut. Diawal pemerintahan pada Oktober 2004 hingga tahun 2006, pemerintahan SBY – JK (berkaca pada pencapaian pertumbuhan tahun 2005 dan 2006) mensia-siakan momentum percepatan pertumbuhan yang telah diwariskan oleh pemerintahan sebelumnya (Megawati Soekarno Putri). Stabilitas Ekonomi dan Akselerasi Perekonomian yang telah dicapai oleh pemerintahan Megawati tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintahan SBY – JK untuk melakukan pencapaian percepatan pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2007, momentum percepatan sudah kembali hadir yang dapat dilihat pada pencapaian target pertumbuhan mencapai 6.3 persen meskipun kondisi ini masih sangat riskan dipertahankan dengan memperhatikan gejolak global (kenaikan harga minyak dan komoditas pangan) yang sedang terjadi di akhir-akhir penghujung tahun 2007 hingga saat ini dan juga bergantung ketahanan perekonomian domestik Indonesia sendiri. Momentum yang relatif sudah kembali ini, akan dapat dipertahankan apabila kondisi menyeluruh perekonomian yang dicapai dengan pencapaian pertumbuhan 6.3 persen pada tahun 2007 mampu bertahan kokoh menghadapi gejolak eksternal (global) yang sedang terjadi hingga tahun 2008. (more…)
Catatan Empat Tahun Kinerja Perekonomian Pemerintahan SBY – JK (Part 2) December 9, 2008
Posted by Robby Alexander Sirait in EKONOMI.Tags: EKONOMI
2 comments
Pola Pertumbuhan Berdasarkan Penggunaan
“Konsumsi Rumah Tangga masih menjadi komponen dominan pertumbuhan”
Pertumbuhan ekonomi Indonesia di 4 tahun terakhir masih dominan didrive oleh konsumsi rumah tangga yang mencapai rata-rata sumbangsih diatas 50 persen terhadap PDB setiap tahunnya. Di empat tahun terakhir juga, komponen penggunaan konsumsi rumah tangga mengalami pertumbuhan yang relatif cukup tinggi dan tahun ke tahun mengalami peningkatan pertumbuhan. Kondisi ini menunjukkan terancamnya kualitas perekonomian jika hanya ditopang (sangat dominan) oleh komponen-komponen pengeluaran yang kurang menjamin kesinambungan pembangunan ekonomi. Pertumbuhan yang dominan di drive oleh komponen konsumsi menunjukkan relatif kurang berkualitas pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Ini disebabkan karena dominasi komponen konsumsi kurang menjamin kesinambungan pertumbuhan dan komponen tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan dalam rangka mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih relatif besar didorong jenis penggunaan konsumsi tidak akan memberikan efek yang signifikan terhadap penurunan angka pengangguran dan kemiskinan. Didalam perhitungan PDB, variabel konsumsi relatif tidak memberikan efek multiplier yang besar atau signifikan terhadap angka pengangguran dan kemiskinan. Efek yang dimaksud jelas dapat terlihat pada masih relatif tingginya angka penggangguran dan kemiskinan. (more…)
Catatan Empat Tahun Kinerja Perekonomian Pemerintahan SBY – JK (Part 3) December 9, 2008
Posted by Robby Alexander Sirait in EKONOMI.Tags: EKONOMI
add a comment
“ Laju Pertumbuhan Ekspor dan Investasi Yang Relatif Menurun dan Labil ”
Selain komponen konsumsi rumah tangga, komponen ekspor memberikan sumbangsih yang cukup menonjol. Empat tahun terakhir komponen ekspor memberikan sumbangsih rata-rata diatas 40 persen setiap tahunnya. Akan tetapi peningkatan impor yang bertumbuh seiring dengan pertumbuhan ekspor menyebabkan ekspor netto semakin menyusut. Melihat laju pertumbuhan komponen ekspor empat tahun terakhir yang kecenderungannya mengalami penurunan dari tahun ke tahun, maka kedepan pemerintahan SBY – JK harus lebih memfokuskan kepada peningkatan komponen ekspor.
Empat tahun terakhir kondisi komponen investasi kecenderungannya mengalami kondisi yang relatif tidak stabil. Pertumbuhan tertinggi investasi terjadi pada tahun 2004 yakni 14.1 persen. Namun setelah itu mengalami kemerosotan yang hanya mencapai 10,89 persen pada tahun 2005, kemudian 2,54 persen pada tahun 2006 dan hanya 9,15 pada tahun 2007. Padahal, untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan mampu memberikan dampak multiplier yang besar dalam kerangka penurunan angka kemiskinan dan pengangguran, komponen investasi harus memiliki peranan pertumbuhan yang sangat berarti sebagai komponen yang sangat berpengaruh. (more…)
Obligasi Daerah Sebagai Salah Satu Alternatif Pembiayaan Daerah (Part 1) November 8, 2008
Posted by Robby Alexander Sirait in EKONOMI.Tags: EKONOMI, OTONOMI DAERAH
add a comment
Di dalam isu desentralisasi, cara-cara pembiayaan yang dilakukan oleh pemerintah-pemerintah local atau daerah atau state menjadi sebuah isu yang menarik untuk diamati dan dicermati. Banyak cara yang dilakukan oleh pemerintah-pemerintah local atau daerah didalam melakukan pembiayaan program ataupun kewajiban-kewajiban pelayanan public yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Ada beberapa cara yang umum dilakukan oleh pemerintah local atau daerah didalam menutupi kekurangan pembiayaan pembangunan di daerahnya masing-masing, yakni antara lain ; pinjaman daerah, leasing atau penyewaan asset-aset daerah, kerjasama operasional, privatisasi, penerbitan obligasi dan lain sebagainya.
Penerbitan obligasi merupakan salah satu alternative yang banyak dipilih oleh beberapa pemerintah daerah negara-negara maju dan pemerintah daerah di negara-negara berkembang. Berdasarkan berbagai pengalaman beberapa daerah (baik negara maju maupun negara berkembang), penerbitan obigasi daerah (municipal bond) pada umumnya diperuntukkan untuk pembangunan infrastruktur dan pembiayan pelayanan public lainnya. Umumnya penerbitan municipal bond diberbagai negara diperuntukkan untuk membiayai pembangunan jalan tol, sekolah, rumah sakit, jembatan, lapangan parkir dan berbagai infrastruktur pelayan public lainnya.
Obligasi Daerah Sebagai Salah Satu Alternatif Pembiayaan Daerah (Part 2) November 8, 2008
Posted by Robby Alexander Sirait in EKONOMI.Tags: EKONOMI, OTONOMI DAERAH
add a comment
Indonesia : Pengalaman dan Peluang Municipal Bond di era desentralisasi
Penerbitan municipal bond di Indonesia dapat dikatakan belum popular, ini disebabkan oleh dasar undang-undang yang mengatur kewenangan pemerintah daerah untuk menerbitkan obligasi daerah baru dikeluarkan pada tahun 2004 dengan lahirnya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan keuangan Pusat dan Daerah dan Peraturan Meneteri Keuangan No. 147/PMK/2006 tentang tata cara pnerbitan, pertanggungjawaban dan publikasi informasi obligasi daerah masih relative tergolong baru atau muda. Selain undang-undang, struktur pasar di pasar modal domestic Indonesiapun pasar obligasi juga belum popular dibandingkan dengan pasar saham sehingga kondisi pasar tersebut sangat mempengaruhi kurang populernya penerbitan municipan bond di Indonesia.
Lahirnya undang-undang desentralisasi dan penerbitan obligasi daerah tersebut merupakan suatu peluang bagi seluruh pemerintah daerah di dalam menutupi kekurangan (deficit) pembiayaan pembangunan infrastruktur pelayanan public di tiap-tiap daerah. Akan tetapi ada beerapa kendala dan tantangan yang harus dipersiapkan dan dihadapi oleh pemerintah daerah di dalam menjalankan kebijakan penerbitan obligasi daerah. (more…)
INTERGOVERNMENTAL TRANSFER (Part 1) October 17, 2008
Posted by Robby Alexander Sirait in EKONOMI.Tags: EKONOMI, OTONOMI DAERAH
add a comment
“INTERGOVERNMENTAL TRANSFER”
Dalam konteks desentralisasi kewenangan kepada pemerintah daerah, transfer dana pemerintah pusat kepada pemerintah daerah (Intergovernmental transfer) merupakan hal yang penting dan tak bisa terhindari. Intergovemental transfer menjadi penting akibat dari implikasi desentralisasi yang menyebabkan semakin meningkatnya kebutuhan dana di pemerintahan daerah (local). Intergovernmental Transfer juga merupakan sumber penerimaan yang dominan bagi pemerintah daerah di banyak negara, terutama negara-negara berkembang dan tak terkecuali Indonesia.
Intergovernmental Transfer telah lama menjadi skema yang utama dari perimbangan dana di banyak negara. Baik buruknya hasil transfer bergantung pada insentif yang terdapat pada sistem transfer. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam intergovernmental transfer adalah efeknya terhadap hasil kebijakan seperti efisiensi alokasi, redistribusi, dan stabilitas makroekonomi. Aspek terpenting dari intergovernmental transfer bukanlah pada siapa yang menyerahkan atau siapa yang menerima, tetapi pengaruhnya terhadap tujuan kebijakan. Karena tujuan dan kondisi masing-masing negara yang berbeda, tidak ada pola transfer yang sama dan berlaku umum untuk semua negara.