jump to navigation

Selamat Jalan Pak Harto!!!!Sampaikan permohonan maafmu kepada BUNG KARNO di alam baka sana!!! January 29, 2008

Posted by Robby Alexander Sirait in NASIONALISME.
Tags: ,
trackback

“Bangsa Yang Besar adalah bangsa yang tidak lupa akan sejarah dan jasa-jasa pahlawannya”

Meninggalnya “Smiling General/diktator/bapak pembangunan/pembunuh berdarah dingin” Suharto masih meninggalkan banyak perkara yang tak terselesaikan. Kasus Pidana yang tak kunjung selesai, pemelintiran sejarah yang tak kunjung diluruskan, kasus pelanggaran HAM yang tak kunjung terselesaikan dan perilaku sadisnya terhadap proklamator bangsa ini. Semuanya menjadi luput karena bangsa ini terhanyut dalam kesedihan yang sebenarnya tidak perlu dilebih-lebihkan. Padahal, banyak sekali “warisan” yang ditinggalkannya yang sebenarnya dapat menyusahkan dan menyesatkan bangsa ini.

Almarhumah pantas bersyukur menjelang detik-detik kematiannya dan detik-detik pemakamannya, karena :

  1. Menjelang detik-detik kematiannya (kronis), Pak Harto masih merasakan pelayanan kesehatan yang begitu memadai, diperhatikan dengan serius oleh pemerintah, dibuatkan konferensi pers oleh presiden, dibesuk oleh pejabat dan mantan pejabat, diberikan perawatan yang memadai. Berbeda dengan Bung Karno, Bung Karno menjelang detik-detik kematiannya dia hanya dirawat oleh seorang dokter hewan, ditelantarkan, Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah, padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal, Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan, dikucilkan
  2. Menjelang kematiannya, Pak Harto masih mendapatkan berbagai statement ajakan kepada bangsa ini untuk memafkan kesalahannya dan untuk memberhentikan kasus-kasusnya. Berbeda dengan BUNG KARNO, menjelang ajalnya Bung Karno engkau kucilkan, engkau siksa dan kau ciptakan stigma dimasyarakat bahwa Proklamator inilah yang paling bertanggungjawab atas pemberontakan G 30 S/PKI (rekayasa). Untungnya, sang proklamator berlapang dada menerimanya untuk menghindari perpecahan bangsa dan menjaga tetap berjalannya roda revolusi saat itu.
  3. Ketika ajal menjemputnya, Pak Harto masih mendapat penghormatan terakhir dari segelintir masyarakat bangsa ini hingga dari presiden, pejabat dan mantan pejabat. Berbeda dengan Bung Karno, ketika ajal menjemputnya dia tidak mendapat perlakuan yang sama, dia hanya mendapatkan penghormatan terakhir dari kerabat-kerabatnya yang loyal. Penghormatan ini tidak dia dapat bukan karena masyarakat tidak mau tetapi karena mereka tidak diizinkan untuk itu dan ada ketakutan bagi mereka untuk dicap sebagai antek-antek PKI. Masyarakat menyadari bahwa sebenarnya kharisma dan figur Bung Karno masih bersemayam di hati mereka bahkan hingga hari ini.
  4. Ketika jenazah Pak Harto mau dikuburkan, Presiden republik ini (SBY) masih bersedia untuk menjadi inspektur upacara dan mengahadiri pemakamannya. Berbeda dengan BUNG KARNO, engkau sebagai presiden tidak menghadiri pemakamannya.
  5. Ketika ajal menjemput Pak Harto, keinginan terakhirnya untuk dimakamkan sesuai dengan pilihanmu (astana giribangun) dikabulkan. Berbeda dengan BUNG KARNO yang berkeinginan untuk dimakamkan di Istana Batu Tulis Bogor tidak dikabulkan militer (engkau) karena ketakutan berlebihan apabila dimakamkan di dekat ibukota.

Tetapi meskipun penderitaan itu harus dihadapi oleh Bung Karno, beliau mengahadapi dengan berlapang dada, dia selalu berpikir bahwa keutuhan bangsa dan jalanya revolusi yang paling penting untuk bangsa ini( ini sepenggal pengakuan Bung Karno kala itu : “Tahu kamu kalau aku ngomong blak-blakan. Aku yakin akan terjadi perang saudara. Kalau perang dengan bangsa lain, kita bisa membedakan fisiknya. Tapi dengan bangsa sendiri, itu sangat sulit. Lebih baik aku robek diriku sendiri, aku yang mati daripada rakyatku yang perang. Aku tidak sudi minta suaka ke negeri orang,”). Meskipun penderitaan ini harus dijalani, Bung Karno masih dapat menikmati hari-hari terakhirnya dengan secangkir kopi ditemani makanan tradisionil. Berbeda dengan Pak Harto, menjelang ajalnya beliau masih harus berjuang dengan banyak alat medis yang mengerogoti tubuhnya meskipun pada akhirnya ajal menjemputnya.

Selamat jalan Pak Harto, semoga dosa-dosamu selama di dunia diampuni olehNya dan apabila engkau bertemu dengan Bung Karno dialam baka sana, “sampaikan permohonan maafmu sedalam-dalamnya atas perlakuanmu terhadapnya dan atas kesalahanmu terhadap sejarah bangsa ini”.

Comments»

No comments yet — be the first.