jump to navigation

Soekarno – Sejarah yang tak memihak January 30, 2008

Posted by Robby Alexander Sirait in NASIONALISME.
Tags: ,
2 comments

Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.
Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan.“ Pak Karno seda “ ( meninggal ). (more…)

Harta Soekarno January 30, 2008

Posted by Robby Alexander Sirait in NASIONALISME.
Tags: ,
5 comments

TD Pardede , tokoh pengusaha asal Medan jaman dulu jika masih hidup tentu akan tercengang membaca berita majalah Tempo minggu ini :
Dari luar ruangan, sejumlah tokoh melihat pertemuan itu berlangsung dingin. Teh dalam cangkir berlogo Istana Presiden yang diangkut dari rumah Soeharto, tak disentuh. Hendarman – Jaksa Agung – kata sumber itu, lalu mengajukan konsep penyelesaian di luar pengadilan. Diantaranya, keluarga Soeharto harus membayar 4 trilyun kepada negara. Ini sepertiga dari tuntutan Pemerintah, yakni US $ 420 juta dan Rp 185 milyar plus ganti rugi immaterial Rp 10 trilyun atas Yayasan Supersemar .
Mbak Tutut dan adik adiknya hanya terdiam mendengar angka yang diajukan Pemerintah “
.

(more…)

Selamat Jalan Pak Harto!!!!Sampaikan permohonan maafmu kepada BUNG KARNO di alam baka sana!!! January 29, 2008

Posted by Robby Alexander Sirait in NASIONALISME.
Tags: ,
add a comment

“Bangsa Yang Besar adalah bangsa yang tidak lupa akan sejarah dan jasa-jasa pahlawannya”

Meninggalnya “Smiling General/diktator/bapak pembangunan/pembunuh berdarah dingin” Suharto masih meninggalkan banyak perkara yang tak terselesaikan. Kasus Pidana yang tak kunjung selesai, pemelintiran sejarah yang tak kunjung diluruskan, kasus pelanggaran HAM yang tak kunjung terselesaikan dan perilaku sadisnya terhadap proklamator bangsa ini. Semuanya menjadi luput karena bangsa ini terhanyut dalam kesedihan yang sebenarnya tidak perlu dilebih-lebihkan. Padahal, banyak sekali “warisan” yang ditinggalkannya yang sebenarnya dapat menyusahkan dan menyesatkan bangsa ini.

Almarhumah pantas bersyukur menjelang detik-detik kematiannya dan detik-detik pemakamannya, karena : (more…)

Sibloga Nauli???(Slogan atau Slogan) January 7, 2008

Posted by Robby Alexander Sirait in SASTRA BEBAS.
Tags: ,
3 comments

Di penghujung akhir tahun 2007, saya kembali ke rumah di Kota Sibolga (kira-kira7 jam dari kampung saya ‘Porsea’. Perjalanan malam yang saya tempuh melalui darat dari kota Medan masih terasa biasa dan mengasikkan hingga kota tarutung tetapi perjalanan ini berubah menjadi sangat melelahkan dan menyebalkan setelah melewati kota tarutung…Melelahkan dan menyebalkan karena selama perjalanan dari tarutung kondisi jalan yang sangat memperihatinkan dan bobrok menjadi penghambat dan alasannya. Jalan yang berlubang dimana-mana sangat mengganggu perjalanan padahal kota sibolga sebagai salah satu kota transit transaksi melalui pelabuhan memiliki dana cukup untuk melakukan perbaikan infrastruktur. (more…)