jump to navigation

Studi Mortalitas Bayi dan Anak di Indonesia October 4, 2007

Posted by Robby Alexander Sirait in EKONOMI.
Tags: ,
trackback

Studi Mortalitas Bayi dan Anak di Indonesia

oleh : Robby A. Sirait, SE

Ukuran mortalitas yang paling umum adalah angka kematian kasar ( AKK ). Angka kematian kasar dipengaruhi oleh komposisi penduduk menurut umur. Untuk kondisi Indonesia dengan struktur umur penduduk relatif muda, angka kematian kasar banyak dipengaruhi oleh tingkat kematian anak, terutama yang berumur dibawah 1 tahun. Angka Kematian Kasar ialah jumlah kematian pada tahun tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun tersebut.

Secara ideal, studi mortalitas dilaksanakan berdasarkan data yang diperoleh secara langsung dari penduduk, yaitu melalui catatan-catatan kematian yang ada di badan – badan pengelola kesehatan atau badan pemerintah. Tetapi, data seperti ini sangat langka diperoleh serta masih memiliki kekurangan kelengkapan dan kecermatan data. Kesalahan yang paling sering terjadi adalah kesalahan dalam pelaporan umur anak ketika meninggal adalah kecenderungan ibu untuk melaporkan kematian anak tidak sesuai dengan aturan survey. Tetapi perlu diperhatikan bahwa walaupun kesalahan pelaporan umur ketika meninggal mungkin mempengaruhi hasil perhitungan estimasi kematian bayi dan anak, suatu studi simulasi menggunakan data DHS menunjukkan bahwa kesalahan tersebut hanya akan mempengaruhi hasil perhitungan sebesar kurang dari 5 persen ( Sullivan, 1990 ). Karena kekurangan – kekurangan tersebutlah maka tidak mengherankan studi mortalitas selama ini menggunakan metode perkiraan tidak langsung seperti metode Brass, Sullivan, Trussell, Preston, Palloni dan lainnya.

Metode tidak langsung merupakan suatu cara yang ditempuh untuk menanggulangi keterbatasan kelengkapan data tadi dengan menggunakan berbagai asumsi. Kelengkapan penggunaan asumsi merupakan tuntutan utama dari pemakaian metode estimasi mortalitas. Mungkin, karena alasan – alasan inilah maka kebanyakan studi mortalitas di Indonesia masih terbatas pada pembahasan metode estimasinya.

Angka kematian Bayi dan Anak, khususnya bayi merupakan indikator yang penting untuk mencerminkan keadaan derajat kesehatan di suatu masyarakat, karena bayi yang baru lahir sangat sensitif terhadap keadaan lingkungan tempat tinggal orang tua si bayi tinggal dan sangat erat kaitannya dengan status sosial – ekonomi orang tua si bayi.

Angka kematian bayi dan anak disamping berguna untuk memantau dan mengevaluasi keberhasilan program di bidang kesehatan, juga dapat digunakan sebagai pengukur situasi demografi dan sebagai masukan dalam perhitungan proyeksi penduduk. Selain itu, angka kematian bayi juga dipakai untuk mengidentifikasi kelompok penduduk yang mempunyai resiko kematian tinggi.

Secara umum AKB di Indonesia sejak awal abad ke-20 cenderung menurun diawali masuknya industrialisasi dari Eropa ke Indonesia ( Hugo dan kawan – kawan, 1987 ). Menurut Gardiner dan Oey, penurunan angka kematian sampai tahun 1930-an kemungkinan besar lebih banyak disebabkan oleh faktor- faktor seperti pembukaan tanah pertanian baru, peningkatan irigasi, dan pengendalian terhadap produksi makanan.

Berdasarkan pengamatan Cho dan peneliti lainnya ( 1980 ) turunnya angka kematian pada dekade 1930-an ini lebih lambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya karena adanya depresi ekonomi. Pada dekade 1940-an angka kematian naik tinggi sekali menjadi 35,1 pada tahun 1940-1945 ( sebelumnya 30,1 periode 1935-1940 ) dan 35,0 pada tahun 1945-1950 disertai dengan turunnya angka harapan hidup ( Widjoyo, 1970 ). Naiknya angka kematian dengan pesat disebabkan karena perang yaitu jaman pendudukan jepang ( 1942-1945 ) dan jaman perjuangan setelah kemerdekaan ( 1945-1949 ), ( Cho dan kawan-kawan , 1980 ).

Kesejahteraan masyarakat nampaknya sudah mulai membaik pada tahun 1950-an dengan dijalankannya program-program kesehatan masyarakat seperti pembasmian malaria dan cacar ( Hugo dan kawan-kawan, 1987 ). Perbaikan gizi keluarga dan masyarakat , serta pembangunan kesehatan mempunyai andil yang cukup memadai dalam menurunkan AKB. Demikian juga halnya dengan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mulai meningkat, sejalan dengan meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat. Khususnya keadaan setelah merdeka, pendataan pemerintah mulai ada dan kebijakan-kebijakan tentang kependudukan mulai dilaksanakan. Pembangunan baik ekonomi, sosial dan lainnya makin digalakkan, sehingga pendapatan masyarakat dan kesadaran akan kesehatan makin meningkat.

Penurunan AKB di Indonesia dari tahun 1967-1996 cukup pesat, penurunan ini disebabkan oleh faktor demografis dan social-ekonomi ( Utomo, 1984 ; Utomo dan Iskandar 1986 ). Beberapa faktor demografis yang mempengaruhi AKB antara lain adalah jenis kelamin, tempat tinggal, urutan anak, selang kelahiran, dan umur ibu saat melahirkan. Sementara itu faktor sosial- ekonomi yang mempengaruhi AKB adalah pendidikan, pekerjaan dan keadaan perumahaan dari ibu yang pernah melahirkan. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh hasil penelitian Supraptilah dan Soenardji ( 1979 ), bahwa tingkat kematian bayi semakin rendah dengan semakin tingginya tingkat sosial- ekonomi.

Adanya perbedaan AKB di berbagai masing-masing daerah disebabkan oleh faktor-faktor social-ekonomi antara lain ; pendapatan, kemudahan mendapat fasilitas kesehatan dan pendidikan ( Cho dan kawan-kawan,1980 ). Faktor-faktor inilah yang mempengaruhi perbedaan AKB di masing – masing daerah ( lebih tinggi atau rendah ) dengan daerah lainnya. Perbedaan pendapatan, fasilitas kesehatan dan pendidikan sangat bervariasi antara satu provinsi dengan provinsi lainnya, perbedaan ini disebabkan karena tidak meratanya pembangunan.

Comments»

1. hadijunaidi - December 10, 2007

Mohon ditampilkan sumber rujukan dari studi mortalitas bayi dan anak di indonesia

2. siti - March 12, 2009

mohon ditampilkan data angka kematian bayi dan balita di indonesia tahun 2007-2009 segera,sangat dibutuhkan

3. lenny - August 4, 2009

pada akhirnya pemerataan kemakmuran juga yg mempengaruhi kesehatan di ngara kita…