Berpikir iseng tentang Kasus Manohara-Kasus Prita-Kasus Ambalat hingga Kasus Alutsista June 9, 2009
Posted by Robby Alexander Sirait in NASIONALISME, POLITIK, SASTRA BEBAS.add a comment

Sumber Foto : Detik.com, okezone.com dan kompas.com
Melihat pemberitaan di media minggu-minggu terakhir ini,saya iseng menuliskan beberapa ide pemikiran yang muncul dalam pikiran saya terkait pemberitaan tersebut. Pemberitaan-pemberitaan tersebut menurut saya cukup sangat-sangat menyedot perhatian masyarakat luas belakangan ini. Ada beberapa hal yang ada di dalam pikiran saya, yakni :
KASUS MANOHARA
Terlepas dari konteks benar atau tidak kasus yang dialami manohara, ada beberapa point kesimpulan yang bisa kita ambil dari kejadian pemberitaan ini, yakni :
- Pemirsa atau masyarakat yang menonton televisi atau membaca media cetak sungguh sangat mudah digiring kepada satu opini atau satu kesimpulan yang disodorkan oleh media belakangan ini (manohara dianiaya oleh pangeran klantan)
- Kasus manohara mampu menyedot perhatian pemirsa sangat luas dan besar sehingga isu-isu lain tidak mampu mengambil proporsi di benak pemirsa,tidak hanya pemirsa, media televisipun terhipnotis dengan kasus manohara ini sehingga menggilir manohara untuk acara talkshow live di stasiun masing-masing dengan hanya menekankan kisah manohara.
- Terlepas benar atau tidak yang dialami manohara, hal penting yang bisa saya petik dari kejadian ini adalah bahwa perlindungan negara terhadap warga negaranya di negeri tercinta ini masih memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian khusus. Contohnya : masih banyak/terjadinya korban-korban TKI (pahlawan devisa) yang masih banyak mengalami penyiksaan di negeri orang,korban lumpur lapindo,dll
KASUS PRITA
Terlepas dari siapa yang benar, prita atau omni, ada beberapa point penting yang bisa kita ambil dalam pemberitaan ini, yakni : (more…)
Sedikit Menilik Tentang Korupsi dan Ekonomi (Part 2) June 8, 2009
Posted by Robby Alexander Sirait in EKONOMI, POLITIK, SASTRA BEBAS.add a comment
SEDIKIT MEMAHAMI KONSEPSI KORUPSI
Apa itu Korupsi : Pemahaman Tentang Konsepsi Korupsi
Secara umum korupsi berasal dari bahasa latin corruption atau coruptus yang dalam bahasa Indonesia diturunkan menjadi kata korupsi yang berarti kebejatan ; ketidakjujuran ; tidak bermoral ; penyimpangan dari kesucian (The Lexicon Webster, 1978) Penyuapan ; Pemalsuan (Kamus Bahasa Indonesia, 1991) penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan sebagai tempat seseorang bekerja untuk keuntungan pribadi atau orang lain (Kamus Hukum, 2002).[1]
Menurut pope (2000) dalam buku Confronting Coruption: The Element of National Integrity System mengutarakan bahwa permasalahan korupsi merupakan permasalahan yang harus menjadi perhatian semua pihak dan bersifat global. Pope juga mengatakan praktik korupsi tidak terlepas dari system pemerintahan yang dijalankan oleh sebuah negara, biasanya praktik korupsi terjadi pada system pemerintahan yang berifat totaliter atau dictator. Akan tetapi praktik korupsi juga tidak tertutup terjadi pada suatu negara yang memiliki sistem pemerintahan yang demokratis, bahkan dengan system pemerintahan yang lebih demokratis mungkin akan memberikan peluang atau ruang yang besar terhadap praktik korupsi. Kondisi ini dapat kita lihat dan indikasikan pada “suburnya praktik korupsi” di Indonesia pasca tahun 1998, praktik korupsi setelah tahun 1998 di Indonesia semakin subur dan semakin meluas. Pra 1998 (masa orde baru) praktek korupsi dijalankan hanya oleh segelintir orang atau kelompok, setelah pasca 1998 dijalankan oleh banyak individu atau kelompok orang yang sejalan dengan berjalannya system pemerintahan yang lebih demokratis.
Klitgaard (1998) mengutarakan bahwa korupsi ada jika seseorang secara legal meletakkan kepentingan pribadinya di atas kepentingan rakyat serta cita-cita yang menurut sumpah akan dilayaninya. Klitgaard menyebutkan korupsi adalah “perilaku yang menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi”
Penelitian Mauro pada tahun 1995,1997 dan 2004 yang ditulis di dalam artikelnya menunjukkan bahwa korupsi memiliki korelasi negatif terhadap investasi dan pertumbuhan ekonomi serta korupsi memiliki korelasi negatif dengan besaran pengeluaran pemerintah terutama jaminan social dan pembayaran kesejahteraan public (social security and walfare payment). Menurut Mauro dalam artikelnya “Why Worry About Corruption” (1997) menyatakan bahwa korupsi yang terjadi dalam system birokrasi pemerintahan berhubungan langsung dengan alokasi penggunaan anggaran negara, sehingga anggaran yang harusnya untuk meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan public tidak terjadi melainkan dialihkan ke kantong-kantong pejabat negara.
Dieter Frish mengatkan bahwa korupsi merupakan tindakan memperbesar biaya untuk barang dan jasa, memperbesar utang negara dan menurunkan standar kualitas suatu barang dan jasa. Melihat kondisi praktik korupsi di Indonesia saat ini, praktik korupsi yang banyak terjadi pada proses pengadaan barang dan jasa. Dan menjadi hal yang wajar apabila kualitas pelayanan dan penyediaan barang dan jasa publik memiliki kualitas standar yang rendah.
Sedikit Menilik Tentang Korupsi dan Ekonomi (Part 3) June 8, 2009
Posted by Robby Alexander Sirait in EKONOMI, POLITIK, SASTRA BEBAS.add a comment
SEDIKIT MENGANALISA
KORUPSI DAN EKONOMI DI INDONESIA
Survey Persepsi Pasar Bank Indonesia : Korupsi Menjadi Penghambat Pertumbuhan Ekonomi
Berdasarkan survey persepsi pasar (SPP) beberapa tahun terakhir, permasalahan korupsi menjadi salah satu kendala yang menghambat pertumbuhan ekonomi sebagaimana terlihat pada table dibawah ini. Survei Persepsi Pasar merupakan survei triwulanan yang dilaksanakan sejak Triwulan IV-2001 terhadap responden yang terdiri dari para ekonom, pengamat/peneliti ekonomi, analis pasar uang/modal serta akademisi. Responden dipilih berdasarkan metode purposive sampling. Saat ini responden survey berjumlah sekitar 100 orang yang tersebar di kota Jakarta, Bandung, Bandarlampung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Padang, Palembang, Denpasar, Banjarmasin, Makasar, Manado dan Kendari. Pengumpulan data dilakukan melalui mail, faksimili maupun e-mail. Hasil survei disajikan dengan metode pooling (persentase responden yang menjawab paling banyak).
Sedikit Menilik Tentang Korupsi dan Ekonomi May 29, 2009
Posted by Robby Alexander Sirait in EKONOMI, POLITIK, SASTRA BEBAS.add a comment
PENDAHULUAN
Korupsi yang dalam terminology ekonomi sering disebut transaction cost, policy cost atau administrative cost merupakan perilaku atau tindakan yang secara normative dilarang dan dibenci tetapi pada kenyataannya masih sering dilakukan, seringkali terjadi di berbagai negara yang perekonomiannya masih pada level berkembang dan atau miskin serta terjadi di negara-negara yang masih memiliki sistem birokrasi yang jauh dari baik, rapi serta efisien dan penerapan good governance masih jauh dari baik.
Permasalahan korupsi di Indonesia bukan lagi menjadi masalah baru bagi sistem hukum, pemerintahan dan ekonomi. Permasalahan korupsi semenjak orde lama hingga saat ini masih menjadi permasalahan yang serius dihadapi oleh Indonesia di dalam rangka menjalankan roda pembangunan nasional baik dilihat dari perspektif ekonomi, social, politik, budaya maupun hukum. Indikasi permasalahan korupsi sudah ada sejak orde lama adalah salah satu pernyataan Bung Hatta empat puluh tahun silam yang menyatakan “Korupsi sudah menjadi bagian dari budaya kita”[1].
Pada Zaman kabinet Burhanudin gerakan anti korupsi telah menangkap Mr. Djody Gondokusumo (mantan menteri kehakiman kabinet Ali I) karena dicurigai melakukan korupsi. Pada kabinet Ali II beberapa orang dituduh korupsi antara lain : Ir. Han Swie Tik, Lie Hok Thay, dan Mr. Ruslan Abdul Gani (Dawam Rahardjo, 1999).
Di zaman orde baru permasalahan korupsi yang diikuti konglomerasi segelintir orang atau kelompok semakin merajalela, hingga pada puncaknya terjadinya aksi besar-besaran penolakan atau pemprotesan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotime) di tahun 1998. Di orde reformasi hingga saat ini permasalahan korupsi masih menjadi permasalahan serius di Indonesia dapat terlihat dari posisi peringkat korupsi atau peringkat CPI Indonesia (Corruption Perception Index) yang dirilis oleh Transparency International (TI). Dalam kurun waktu 2001 hingga 2008 peringkat CPI Indonesia masih sangat buruk, yang dapat dilihat pada table dibawah. (more…)
Sepenggal pemikiran yang terlintas pada saat menonton iklan sekolah gratis di televisi April 30, 2009
Posted by Robby Alexander Sirait in NASIONALISME, SASTRA BEBAS.Tags: NASIONALISME, SASTRA BEBAS
add a comment
“Education is our passport to the future, for tomorrow belongs to those who prepare for it today”
Beberapa minggu lalu saya menonton iklan “sekolah gratis sd dan smp”,ada beberapa hal yang ingin saya tulis terkait iklan tersebut.
Melihat iklan tersebut mungkin sebagai salah satu bagian dari bangsa yang baik memberikan apresiasi kepada pemerintah maupun DPR RI yang telah berupaya merealisasikan anggaran pendidikan 20 persen dan salah satu bentuk pelaksanaannya adalah sesuai dengan iklan tersebut (itu juga kalau apa yang disampaikan oleh iklan tersebut sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan)
Akan tetapi melihat angka anggaran APBN tahun 2009 pada pos belanja pemerintah berdasarkan fungsi (fungsi pendidikan),angka anggaran fungsi pendidikan masih jauh dari 20 persen (yang masih membingungkan saya formula yang digunakan pemerintah dan DPR sehingga 20 persen dari mana).
Kemudian yang perlu diperhatikan dan dikritisi adalah kemana saja anggaran 20 persen tersebut kemana saja dialokasikan dan apakah alokasi 20 persen tersebut sudah dialokasikan kepada pos-pos yang efektif dan efisien dalam kerangka mengurangi beban biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh masyarakat Indonesia. Yang juga harus diamati dan diperhatikan adalah berapa besar proporsi pembagian 20 persen anggaran tersebut (apakah proporsi untuk pos-pos dalam rangka meningkatkan angka partisipasi sekolah dan mengurangi beban masyarakat lebih besar dibanding pos-pos lain). Untuk itu dalam konteks anggaran pendidikan 20 persen,kita jangan sampai terjebaki hanya pada angkanya saja. Akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana angka-angka tersebut dialokasikan dan direalisasikan.
Renungan Hari Kartini : “R.A Kartini sebagai simbol perjuangan dan perlawanan kaum perempuan” April 22, 2009
Posted by Robby Alexander Sirait in NASIONALISME, SASTRA BEBAS.Tags: NASIONALISME
1 comment so far

“…Alangkah besar bedanja bagi masjarakat Indonesia bila kaoem perempoean dididik baik-baik (Kutipan surat kartini Agustus 1901)”
R.A Kartini merupakan sebuah simbol perjuangan kaum perempuan dalam menghadapi kebodohan di dalam pendidikan dan sebagai simbol perlawanan terhadap pengekangan kaum perempuan terhadap dunia luar. Perjuangan dan perlawanan kartini harus selalu tetap dijadikan sabagai referensi dan titik awal setiap kaum perempuan direpublik ini untuk melawan kebodohan dan diskriminasi perlakuan di beberapa bidang atau hal. Diskriminasi perempuan dalam pembangunan ekonomi,sosial dan politik masih terus terjadi disetiap sendi-sendi kehidupan bangsa ini. Masih rendahnya keterlibatan dan partisipasi perempuan di dalam pembangunan ekonomi,sosial dan politik harus menjadi musuh bersama kita dalam rangka mensukseskan pembangunan menyeluruh di negeri ini.
